Posted in kegiatan magat

HOME VISIT PERDANA MAGATRIKA: IR. I NENGAH SUMERTI, 19 APRIL 2014

Reza Bakhtiar, Magatrika 2010

Kunjungan kerumah DOSEN? Ada gak sih mahasiswa atas atau organisasi lain di JTETI UGM yang pernah ada kunjungan ke rumah DOSEN? Selama penulis kuliah hampir 8 semester belum ada tuh organisasi di JTETI yang acaranya kunjungan kerumah dosen? Apa penulis sendiri yang kuper jadi gak tau? Apalagi dosen yang ingin dikunjungi ini termasuk dosen yang sangat “spesial” bagi seluruh umat JTETI UGM khususnya masyarakat yang mengambil konsentrasi power atau biasa disebut STL. Salah satu dosen yang hampir setiap semesternya menguncangkan hati para mahasiswanya setelah melihat portal akademik. Siapa lagi kalau bukan bapak Ir. I Nengah Sumerti.

Kunjungan ke rumah dosen kali ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi penulis dan bagi yang ikut. Tapi sangat disayangkan jumlah kuota dibatasi. Tapi gak logis juga andaikan semua anggota magatrika ikut, bisa-bisa dikira demo tuntutan kenaikan *piip* #sensored. Awal cerita kami semua berangkat menggunakan motor dari JTETI, dengan seragam hitam-hitam (baju magatrika) kebanggaan kita, bukan dengan maksud yang lain pake hitam-hitam, tetapi demi kekompakan anggota magatrika. Diperjalanan ada satu anggota kita yang ketinggalan karena ban motor nya bocor, yaitu Muhammad Iqbal 2012. Sabar ya.

Sesampainya dirumah beliau, dengan baju putih khas nya kami disambut dengan ramah dan welcoming banget. Diawal kami juga bertemu dengan istri beliau yang juga ramah. Kami banyak bercerita tentang keluarga pak Nengah, ternyata ada salah satu anak beliau alumni dari JTETI juga lhoo. Beliau bercerita bahwa anaknya tidak mau mengambil konsentrasi STL dengan alasan tidak mau bertemu dengan mata kuliah yang diajar beliau. (Haha sampai segitunya ya). Tetapi beliau meneruskan ceritanya sambil tertawa bahwa saat itu beliau kan mengampu mata kuliah kewirausahhaan yang otomatis pasti bertemu dengan beliau. Haha. Diawal juga beliau menanyakan kami dari angkatan berapa dan dari daerah mana, hingga ngalor ngidul. Tapi ada satu hal lucu ketika salah satu dari kami bercerita bahwa ada salah satu mahasiswa angkatan 2012 sedang diperjalanan karena ban motornya bocor. Sehubungan angkatan 2012 kan belum pernah diajar matakuliah yang beliau ampu, celetuk beliau,”wah, belum bertemu saja sudah “GEMBOS” (ngertikan maksudnya? Haha).

Singkat cerita, ketika ada salah satu dari kami menanyakan mengapa Nilai praktikum STL kok banyak yang kurang bagus? Pada saat itu juga Bapak Ir. I Nengah Sumerti terpanggil sebagai seorang Dosen dan pengajar. Beliau langsung menjelaskan dengan teori dan konsep, karena mungkin kurang begitu jelas, beliau dengan semangatnya langsung membawa papan tulis yang sudah lama tak terpakai, dan alhasil beliau kembali mengajar seperti dikelas. Tetapi bedanya beliau duduk dibawah, kami diatas?! (SALUT BUAT BELIAU). Kami dijelaskan letak mana saja yang salah pada soal reponsi praktikum. Pada intinya nomor 1 beliau berpendapat bahwa rata-rata dari mahasiswa menggambar capability chart hanya sekedar menggambar, tidak ada batas-batas dan keterangan/batas angka. Beliau berkata layaknya peta buta, gambar bagus tetapi tak ada batas nya untuk apa? Namanya saja “capability”, pastilah ada batasannya. Giliran ada batasnya, tapi gambarnya salah. Bahkan beliau sedikit kesal ketika ada mahasiswa yang menggambar sudut yang besar dan gambarnya tidak singkron dan tidak logis. Selain dari masalah nomor 1, masih banyak masalah disoal lain yang ternyata soal yang sangat tricky. Berhubung “master” yang telah menjadi turun temurun tiap angkatan itu, jadi kami anggap master tersebut lah yang paling benar, tenyata masih banyak yang salah lho. Jadi wajar saja turun-temurun nilai praktikum tersebut selalu berkahir tragis.

Setelah satu jam lebih (mungkin) kuliah dadakan yang diadakan beliau, penulis berfikir ini merupakan momen terbesar kita, untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dari responsi praktikum yang turun-temurun selalu berakhir tragis. Tetapi yang ikut disini hanyalah sebagian sangat kecil dari keseluruhan anggota magatrika. Ada baiknya jika ilmu yang diberikan beliau ini disebarluaskan kepada seluruh masyarakat Magatrika. Ternyata pemikiran penulis seirama dengan pesan pak Nengah bahwa yang tidak ikut haruslah diberi tahu. Ada baiknya untuk kedepannya diberikan semacam short coure responsi praktikum STL sebelum remidial. Karena bagi penulis ilmu itu memang haruslah disebarluaskan. Apalagi ilmu tersebut memperbaiki tradisi buruk dari mahasiswa STL. “Tunjukan kami jalan yang benar” seperti yang selalu kita katakan ketika beribadah. Itulah jalan yang benar! Bukan dari master yang selalu memberi jalan yang sesat hingga banyak yang masuk jurang.

10153111_1430189010568762_2294844264016699289_n

Akhir cerita, beliau berpesan sering-sering main ke rumah beliau, bahkan beliau sangat welcome jika ada kunjungan kembali dan ada bakar-bakaran jagung. Penulis juga sangat senang bisa ikut dalam kunjungan tersebut. Semoga kedepannya bisa diteruskan dan dapat semua dosen kita kunjungi. Barang kali aja dapet kunci-kunci atau kisi-kisi sebelum ujian. hehe…

Advertisements
Posted in kegiatan magat

Deal With Upstream Oil Industry (Testing Process)

Image

Downhole testing Field Engineering Schlumberger

Jumat siang tanggal 3 Januari yang lalu, magatrika memilki agenda yang sangat istimewa. Dengan poster biru putih yang tersebar
di jejaring sosial, acara yang berjudul “Deal with Upstream Oil Industry (Testing Process)” ini pun berlangsung. Ruangan TD  dipenuhi oleh para mahasiswa yang sangat antusias mendengar cerita dan pengalaman dari senior angkatan 2007 yang telah bekerja di perusahaan service company ternama, Schlumberger. Pria kelahiran Sleman pada tanggal 25 Januari 1989 ini adalah Mas Fajar Budi Suryawan (Mas Jarbud), pria kelulusan 2011 yang bekerja di bagian Downhole testing.Beliau pernah menjadi Ketua Divisi Power Electronic Magatrika.

Jam dinding pun tepat menunjukan pukul setengah dua siang dan para mahasiswa siap mendengarkan semua kisah suka dan duka dari pria yang telah bekerja di SLB sejak tahun 2011 ini. Di awal kuliah umum yang Free ini, mas Budi menjelaskan mengenai perbedaan spesifik antara perusahaan oil and gas dengan service company. Masih banyak mahasiswa yang terkadang terjebak antara perbedaan keduanya. Oil and gas diibaratkan mas budi sebagai pemilik tanah dan service company adalah petaninya.“Landlord (pemilik tanah)? Farmer (petani)? Maksudnya?” terdengar bisik-bisik mahasiswi di sudut ruang TD.Landlord adalah orang yang memiliki tanah yang dianggap berpotensi untuk menghasilkan minyak atau gas bumi. Sayangnya si landlord tak punya teknologi canggih untuk bisa meraih kedalaman dimana minyak bumi berada. Landlord atau pemilik tanah ini contohnya perusahaan Chevron, Total, Chonoco, dan lain sebagainya.Farmer adalah perusahaan yang punya teknologi canggih dan bisa menawarkan service nya kepada para tukang tanah tadi. Dialah yang melakukan pengeboran dan testing hingga maintenance sesuai standar internasional yang ia miliki. Dan disinilah Schlumberger, Halliburton, Expro, Weatherford punya lahan.

Mas Jarbud juga menjelaskan beberapa tahap yang dilakukan sebelum minyak dan gas bumi di dapatkan. Beberapa tahapan itu bisa dirangkum sebagai berikut:

1. Seismic
Rangkaian kegiatan pengetesan yang berfungsi untuk mengetahui keadaan permukaan bumi menggunakan sensor-sensor tertentu.
Nyatanya, bumi yang kita diami ini bukan hanya sekedar lapisan-lapisan belaka. Tapi di dalamnya ada beberapa rongga kosong akibat pergeseran lapisan yang terjadi di dalam perut bumi. Celah kosong ini akhirnya menjadi tempat nyaman para minyak bumi mengendap. Dan inilah tugas para insinyur-insinyur perminyakan untuk mendeteksi apakah disana ada kandungan minyak atau tidak.

2. Drilling and well construction.
Setelah diyakini bahwa di kedalaman suatu permukaan bumi terdapat kandungan minyak, maka langkah selanjutnya adalah membangun rig. Apa itu rig? Rig adalah suatu bangunan dengan peralatan untuk melakukan pengeboran ke dalam reservoir bawah tanah untuk memperoleh air,minyak, atau gas bumi.  Reservoir adalah suatu tempat dimana para minyak dan gas bumi bernaung. Nah, rig inilah yang akan melakukan proses drilling atau pengeboran menuju reservoir tadi. Tiap tahap pengeboran, akan dibuat shielding yang dinamakan well alias sumur. Sumur dengan kedalaman tertentu dibuat dengan tahapan-tahapan serta standar tertentu sehingga tidak akan terjadi blow up lumpur atau jenis kandungan yang tidak diinginkan.

3. Well logging
Para ahli wireline yang kebanyakan berasal dari mahasiswa tenik elektro akan banyak bermain disini. Cara kerjanya simpel. Dengan memancarkan arus listrik ke permukaan yang diinginkan, kita akan mendapatkan tingkatan-tingkatan resistansi tiap lapisan. Dengan cara ini kita akan mengetahui ada atau tidaknya kerusakan atau patahan di dalam sumur yang kita bangun tadi. Biasanya, setelah well logging dilakukan, well testing dan Artificial lift pasti tidak akan ditinggalkan.

Capture

4. Production and productivity
Minyak yang didapatkan masih berupa minyak mentah dan harus difilterisasi hingga di dapatkan minyak yang diinginkan. Disinilah proses pengendapan terlaksana. Dengan tingkat massa jenis yang berbeda-beda, akan didapatkan beberapa jenis minyak sesuai kebutuhan. “Simpelnya seperti itu!” ucap mas Jarbud di sela-sela persentasi.Mas Jarbud sendiri mengakui bahwa bekerja di perusahaan internasional sekelas Schlumberger harus bisa menghargai waktu. Karena rig yang tuan tanah miliki (landlord) sangat mahal penyewaannya. Biaya sewa rig paling murah adalah 8000 dolar perhari. Dan jika dia berupa onshore, biasanya 40.000 dolar perhari dan akan sangat mahal jika dia berada di tengah laut (offshore). Yaitu bisa mencapai 200.000 dolar perhari.

Mahasiswa lulusan Elektro biasanya ditempatkan di facility engineering. Dan paling sering ditempatkan di bagian wireline atau aritificial lift.Bekerja di perusahaan yang menuntut komitment tinggi dan jiwa kerja keras ini merupakan tantangan tersendiri bagi mas Jarbud. Jangan kaget jika mas Jarbud sendiri pernah bekerja selama 70 hari tanpa hari libur. “Perusahaan yang didirikan di Prancis ini sangat ketat akan efektivitas dan efisiensi waktu, dek” tambah mas Jarbud.

Sebuah istilah NPT (Non Productive Time) akan menjadi momok paling buruk bagi seorang pegawai Schlumberger. NPT adalah total
waktu perusahaan rugi atau tidak ada kegiatan produktif yang dilakukan. Dan tiap pegawai harus bisa meminimalisir npt sehingga perusahaan tidak merugi.

di SLB (singkatan Schlumberger) tentunya ada jenjang karir. Di perusahaan yang memiliki alamat website http://www.slb.com ini, tiap tahunnya akan selalu ada kenaikan jenjang karir. Seorang fresh graduate akan mendapatkan grade 8 (Field engineer) dan tiap tahun akan naik pangkat menjadi Senior engineer dan kemudian General engineer.

Latihan yang keras dan disiplin yang tinggi kadang menjadi rintangan yang cukup menantang di perusahaan bertaraf internasional ini. Banyak yang resign karena tidak sanggup dengan iklim kerja yang ada di perusahaan ini dan tak sedikit pula yang dipecat karena keteledoran dan kekhilafan yang ia lakukan.resign dan dipecat tentu berbeda. Resign berarti kita tidak mendapatkan uang peangon.Kalau dipecat, kita masih dikasih uang pesangon.Tentunya menjadi hal yang berbeda dengan perusahaan-perusahaan BUMN

So, life is a choice. It is up to you! Buat teman-teman yang suka jalan-jalan, suka mendapatkan training, hard worker, bisa begadang dan cuma tidur 3 jam, Schlumberger mungkin bisa jadi pilihan teman-teman.

CaptureCapture

Oleh : Ikhwan Luthfi Syafjon
Editor : Veby Enandes Stalony

Posted in kegiatan magat

PROJECT LECTURE 11 DESEMBER 2013

11 Desember 2013 lalu, magatrika mengadakan Project Lecture. Mungkin ada yang bingung, apa sih project lecture itu? Oke, sebelum melangkah lebih jauh, kita ceritakan sedikit, sebenarnya apa sih project lecture itu…

Project lecture adalah penjelasan mengenai proyek oleh mahasiswa yang telah berkesempatan untuk ikut serta dalam pelaksanaan proyek.  Tujuannya? Untuk melakukan transfer pengetahuan dan pengalaman kepada yang tidak memiliki kesempatan untuk ikut langsung dalam pelaksanaan proyek. Karena memang tidak mungkin semua mahasiswa terlibat langsung dalam proyek yang sama…efektivitas proyek akan berkurang jika terlau banyak yang ikut serta. Tapi, kita sebagai akademisi yang haus akan ilmu pasti tidak ingin ketinggalan pengetahuan yang pelaksana proyek dapatkan, dan juga pengalaman mereka, walaupun tidak secara langsung. Paling tidak, mulai terbangun  sebuah pondasi kerangka pikir mengenai bagaimana sih proyek itu dilaksanakan.

Tak hanya itu, project lecture juga merupakan proses kaderisasi langsung ke magatrika muda. Karena ke depan, merekalah yang akan menjadi pelaksana proyek menggantikan senior-seniornya. Nah, karena proyek itu bukan hal yang sehari-hari kita lakukan, biasanya butuh penyesuaian pada saat awal melakukan proyek. Project lecture diharapkan menjadi alat untuk mempersingkat penyesuaian tadi dengan membangun kerangka pikir yang jelas mengenai proyek dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, langsung dari sang pelaku.

Pada kesempatan kali ini, yang mengisi adalah Rico Yudhianto dan Lukita Wahyu Permadi (Ukit), keduanya adalah Magatrika ’10. Pada sesi I Rico mempresentasikan proyeknya, yaitu “Survey Kepuasan Pelanggan PT. PLN (Persero) Wilayah dan Distribusi,” sedangkan pada sesi II Ukit mempresentasikan menganai “Kajian Tarif Adjustment Untuk PT. PLN (Persero).”

Pada sesi I, Rico menjelaskan bahwa maksud dari diadakannya survey kepuasan pelanggan (SKP) adalah untuk mengukur kinerja pelayanan PLN melalui indeks kepuasan dan ketidakpuasan pelanggan yang meliputi seluruh unit PLN wilayah/distribusi. Proyek ini dilakukan secara konsorsium teknik elektro Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Udayana , dan Universitas Gadjah Mada sebagai host-nya.

 1

Penugasan dari pusat ke wilayah terdiri atas 3 kegiatan, yaitu:

  1. pelaksanaan survey yang terdiri atas rumah tangga, sosial, bisnis, industri, dan pemerintahan sesuai dengan penggolongan tarif listrik. Kuisioner untuk kemudian dikirim kembali ke pusat.
  2. Penugasan back check
  3. Input data ke server pusat, yang dilakukan setelah back check selesai. Input data ini dimonitoring dari pusat.

Survey ini dilakukan pada 21 wilayah surey, seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut,

 2

Nah, konsorsiumnya kan hanya berisi 6 kampus yang notabene ada di jawa, kecuali Universitas Udayana. Lalu, siapa yang melakukan survey di daerah yang sangat luas seperti di atas? Ternyata, pihak PLN dan UGM telah bekerjasama dengan kampus-kampus yang ada di daerah. Bahkan, wilayah-wilayah di atas telah dikoordinatori oleh sebuah kampus yang bertanggungjawab pada daerahnya.

 Telah juga disebutkan bahwa akan didapat indeks kepuasan dan ketidakpuasan pelanggan. Lalu, bagaimana cara menguantisasikan kepuasan dan ketidakpuasan? Hmm…ada formulasi untuk menghitung indeks-indeks tersebut, untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada file terlampir. Intinya, kelengkapan nilai-nilai variabel didapat dari survey, baru setelahnya nilai-nilai tersebut dimasukkan pada rumus-rumus yang ada, dan didapatlah nilai ideks tiap daerahnya

Pada sesi II, Ukit menjelaskan mengenai tarif adjustment atau penyesuaian tarif. Mengapa perlu untuk disesuaikan? Karena untuk menyediakan listrik seperti yang kita nikmati sekarang, pemerintah masih mengeluarkan subsidi yang nilainya tidak sedikit. Pemerintah menganggap jika subsidi bisa ditekan dan dialokasikan ke sektor lain, maka akan mempercepat pertumbuhan infrastruktur dan pengembangan sektor tersebut.

Melihat hal tersebut, PLN sebagai penyedia listrik diminta untuk setahap demi setahap mulai menggeser subsidi, dengan menyesuaikan biaya penyediaan dengan tarif. Maka, nantinya harga listrik bisa bertambah, bisa juga berkurang, benar-benar sesuai dengan harga komponen penyediannya, seperti halnya pada minyak mentah dunia. Mengapa disebut setahap demi setahap? Karena sistem ini tidak langsung diberlakukan pada seluruh golongan pelanggan, tetapi dimulai dengan golongan pelanggan daya besar.

Manfaat dari sisi PLN adalah, adanya kemungkinan PLN mendapatkan keuntungan yang lebih besar, walaupun hal tersebut juga berarti adanya kemungkinan bahwa PLN mendapatkan keuntungan yang lebih kecil. Sekarang, PLN mendapatkan keuntungan sekitar 7% dari seluruh pendapatan dari penyediaan listrik. Entah PLN bekerja dengan baik ataupun buruk, entah terjadi peningkatan kualitas di dalam internal PLN sekalipun, penghasilan PLN tetap 7%.Nah, dengan adanya sistem tarif yang sesuai dengan biaya penyediaan, akan lebih fair bagi PLN, karena bila terjadi peningkatan pelayanan dari PLN, misalnya penurunan losses daya , maka pelanggan yang dapat dilayani akan lebih banyak, dan hasilnya adalah keuntungan yang didapat oleh PLN akan semakin besar, dan PLN akan semakin mencoba untuk meningkatkan terus kualitasnya.

Itulah gambaran singkat mengenai kegiatan project lecture pertama ini. Kita dapat melihat usaha PLN untuk terus menigkatkan kualitasnya. Semoga kondisi ketenagalistrikan negeri kita tercinta ini selalu menuju arah yang lebih baik

Berikut ini dokumentasi kegiatan Project Lecture

1464666_10201381075312267_1920547878_n

1470216_10201381077032310_815091433_n

Magatrika, The Power is In Our Hand

Posted in kegiatan magat

7 Pelajaran Dari Cinemagat 30 November 2013

Penghujung bulan November 2013, tepatnya tanggal 30 ini, Magatrika mengadakan kegiatan nonton bareng di ruang Magat tercinta. Berbekal satu buah infokus dan satu buah layar hasil pinjaman dari KMTETi, ruang mungil kita itu untuk semalam kita ‘sulap’ menjadi bioskop mini. Sesuai rencana, film yang akan ditonton dipilih dari 3 film yang ditawarkan, yaitu ‘Coach Carter’, ‘A Man Who Was Superman’, dan ‘Secret of Nikola Tesla.’ Dan berdasarkan kesepakatan yang hadir, dipilihlah film Coach Carter, dan film diputar pada pukul 19.56.

Terus terang, saya sendiri belum pernah menonton film ini, hanya saja saya pernah baca resensinya, yang makin membuat saya penasaran dan ingin segera melihat langsung film-nya. Terlebih, berdasarkan informasi yang saya dapat, film ini berdasarkan kiash nyata. Film coach carter ini dirilis pada tahun 2005, dan mengisahkan tentang sepak terjang seorang pelatih pengganti tim bola basket SMA Richmond Oilers, yang bernama Ken Carter. Sang pelatih diperankan dengan sangat apik oleh Samuel L. Jackson, yang pasti sudah tidak asing lagi bagi pecinta dunia film.

Pukul 19.56, film diputar. Beberapa memerhatikan karena tertarik (Seperti Gatya, Magatrika ’10 dan termasuk saya ), beberapa ada yang sudah nonton dan memberikan spoiler (seperti Wantok dan Caesar, Magatrika ‘10), dan beberapa ada yang malah bermain game PES 2014 (seperti Veby, Magatrika ’10 dan lawannya yang silih-berganti).  Namun ketika film dimulai, semua fokus tertuju pada film karena film ini semakin menarik.

Bagian awa film menampilkan scene di mana sang pelatih baru, masuk menemui anak-anak didikannya. Pelatih Carter mendapatkan informasi bahwa, walaupun memiliki kemampuan bermain basket, tetapi moral dan kemampuan akademik anak-anak didiknya itu sangat buruk. Untuk memperbaiki hal tersebut, pelatih Carter memiliki cara sendri. Hari pertama ia bertemu anak-anak didiknya, dia membuat sebuah kontrak kerja yang mana di antaranya berisi perjanjian bahwa anggota tim basket harus memiliki nilai minimal 2.3 (padahal standar sekolah hanya 2.0), harus hadir di setiap kelas dan duduk di barisan kursi terdepan, dan harus menggunakan dasi ketika dating ke pertandingan. Dia bahkan menekan anak-anak didiknya itu untuk menambahkan kata’sir’ sebagai penghormatan ketika berkomunikasi dan meninggalkan kata kasar yang sering mereka ucapkan seperti ‘nigger’ (sebutan untuk orang kulit hitam, negro, yang memiliki kesan ejekan). Melihat kesepakatan yang bagi mereka tak masuk akal tersebut, beberapa orang langsung mengundurkan diri, termasuk beberapa pemain inti yang memiliki kemampuan hebat. Tapi hal tersebut sama  sekali tidak menciutkan sang pelatih.

Anak-anak yang bertahan di tim segera merasa segan dengan pelatih baru mereka, karena berhasil melumpuhkan serangan salah seorang murid bernama Cruz yang tidak setuju dengan kesepakatan tersebut, dan yang pasti keseganan mereka bertambah ketika melihat nama “Ken Carter” pada spanduk nama-nama pemain terbaik di lapangan basket sekolah mereka.

Pelajaran Pertama: Milikilah kemampuan, maka kita akan lebih dihargai

Latihan sejak hari itu hingga hari-hari kedepan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah disepakati. Bila ada pelanggaran, maka hukuman tak ragu-ragu diberikan oleh sang pelatih. Bahkan tak jarang sang pelatih mengecek ke dalam kelas anak-anak didiknya, dan dia juga meminta laporan perkembangan akademis mereka.

Pelajaran Kedua: Kontrol setiap kebijakan dan kesepakatan, lalu tegaslah dalam menerapkannya

Latihan rutin dilaksanakan setiap hari, dan pelatih Carter memiliki cara yang unik dalam menyusun strategi bagi timnya; membuat pola serangan dengan nama wanita. Dia sepertinya cukup paham tipikal anak-anak didiknya yang selalu tertarik dengan makhluk bernama wanita, dan sesuai harapan, anak-anak didiknya dengan mudah memahami dan menghafal setiap pola strategi yang diajarkan oleh sang pelatih.

Pelajaran Ketiga: Pilihlah metode yang paling efisien bagi tim, sehingga strategi dapat berjalan dengan optimal

Semua sejauh ini terlihat lancer? Ya, tapi tidak berlangsung lama. Sederet masalah muncul, mulai dari praktik kaburnya seluruh anggota tim, Cruz yang selalu tidak bisa mengendalikan emosinya, tim yang ternyata tidak mematuhi kontrak, dan lain-lain, sehingga pelatih Carter terpaksa menutup tempat latihan dan membatalkan beberapa pertandingan penting. Anak-anak didiknya dipaksa untuk meningkatkan kualitas akademik mereka di perpustakaan. Kebijakan ini tak hanya mendapat penolakan dari anak-anak didik tersebut, tetapi juga dari kepala sekolah dan orang-orang di kota Richmond, karena tim basket kebanggaan mereka yang sedang naik daun malah tidak bisa lagi bertanding. Namun pelatih Carter tidak bergeming dan tetap pada pendiriannya. Dia yakin bahwa anak-anak didiknya adalah seorang ‘pelajar yang bermain basket’, bukan ‘pemain basket yang belajar’.

Pelajaran Keempat: Teguhlah pada pendirian kita, tetapi jangan lupa pastikan bahwa kita ada di tempat yang berpihak pada kebenaran.

Sebelumnya anak dari pelatih Carter juga masuk tim basket Richmond. Dia rela pindah dari sekolah St. Francis yang terkenal memiliki prestasi akademik yang baik, dan lebih dari itu, st. Francis merupakan peringkat 1 bola basket Nasional. Dia hanya ingin dilatih bermain basket oleh ayahnya, karena dia percaya bahwa ayahnya adalah pelatih bola basket terbaik. Sebenarnya pelatih Carter tidak setuju, karena menurutnya anaknya itu bisa lebih berkembang secara akademis di sekolah st. Francis. Namun akhirnya pelatih Carter setuju. Implikasinya, sang anak juga wajib menaati peraturan tim basket Richmond. Hari pertama, anak pelatih Carter terlambat karena harus menemui gurunya. Tapi ketegasan pelatih Carter tidak berkurang walaupun ke anaknya sendiri.

Pelajaran Kelima: Terapkanlah kebijakan tanpa pandang bulu, sehingga tidak membuat jurang pemisah dan perasaan ketidakadilan bagi yang lain.

Karena bertambahnya pihak yang tidak setuju dengan pelatih Carter, di proses persidangan pun diputuskan bahwa pelatih Carter harus membuka kembali tempat latihan. Dan pelatih Carter berniat untuk mengundurkan diri, karena dia merasa dipaksa untuk tidak menjalankan caranya dalam mendidik tim basket Richmond. Tapi sebelumnya, pada proses persidangan pelatih Richmond sempat mengungkapkan hal yang mungkin bisa mengubah moral timnya. Dia berkata bahwa jika sejak SMA saja anak-anak tidak dididik untuk taat para aturan dan kesepakatan, maka kita hanya tinggal menunggu waktu mereka untuk melanggar aturan yang lebih besar, dan berakhir di penjara sebagai seorang criminal.

Ketika dia melangkah menuju lapangan basket untuk berbenah, dia melihat barisan kursi belajar dan dia dapati tim basketnya sedang belajar, dan menunjukkan diri bahwa mereka mau berubah. Hal ini sungguh mengejutkan pelatih Carter. Ternyata kalimat dan pendiriannya di persidangan bisa mengubah pendangan timnya.

Pelajaran Keenam: Jangan takut untuk membela kebenaran, karena manusia pada akhirnya akan menyerah di depan kebenaran.

Akhirnya, prestasi akademis tim meningkat pesat. Tak hanya itu, prestasi bola basket merekapun meningkat. Bahkan mereka berkesempatan bertanding melawan st. Francis. Dan ya, di pertandingan itu mereka kalah tipis. Kecewa pasti ada, namun pelatih Carter menyemangati mereka bahwa mereka telah bertanding seperti seorang juara. Bagi sang pelatih, mereka adalah juaranya. Merekapun disambut dengan meriah ketika keluar dari ruang ganti pemain. Tapi tak berhenti sampai disitu, ternyata 6 anggota tim senior mereka berhasil melanjutkan studi ke Universitas. Bahkan anak pelatih Carter berhasil memecahkan rekor ayahnya sebagai pencetak skor terbanyak di SMA Richmond dan pada tahun berikutnya berhasil masuk ke akademi militer.

Pelajaran Ketujuh: Kewajiban kita adalah berjuang, bukan menang.

Ya, walau Cinemagat edisi kali ini tidak berhasil diselesaikan karena durasi film yang cukup lama (Takut Portal Fakultas keburu ditutup), tapi saya pribadi benar-benar menikmati film ini. Film yang baik tentang bagaimana mempertahankan sebuah idealisme, yang pastinya sangat kita butuhkan ketika kita menghadapai dunia pasca-kampus. Setelah diakhiri secara paksa, kami kembali menata ruang magat seperti sedia kala, dan keluar bersama dari kampus. Beberapa ada yang mampir ke kopi joss seperti Afif, Veby, Caesar, dan lain-lain, walau saya sendiri tidak ikut karena sudah terlalu larut.

Tetap semangat untuk pihak-pihak yang telah membantu acara Nonton bareng pertama Magatrika ini, Ikhwan Luthfi a.k.a Wantok, Veby Enandes, Mukhlis Nur Afif, Sholihatta Aziz a.k.a Adul, Alfian Harfin, Gatya Wijaya, Agung Ilham, Goldwin Caesar, dan lain-lain. Semoga Cinemagat ke depan tambah rame, tambah banyak snack, dan tambah banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Dan walaupun judul tulisan ini ‘7 Pelajaran’, tapi sesungguhnya ada lebih dari itu pelajaran yang bisa saya ambil dari acara Cinemagat ini. Mari kita buktikan bahwa ilmu juga bisa didapat di luar kelas kuliah.

MA…WHAT???

MAGAT!!!

THE POWER IS IN OUR HAND

Musofa Mulya, Magatrika ‘10

Posted in kegiatan magat

Kunjungan Magatrika ke Balai Yasa Yogyakarta

tepat pada tanggal 24 Oktober 2013 yang lalu, Magatrika melakukan kunjungan kerja ke Balai Yasa Yogyakarta, sebuah perusahaan yang memberikan service kepada kereta api, disinilah kereta api yang rusak diperbaiki, dimaintenance dan diuji sebelum dikeluarkan dari kandangnya. Hehehe.. Balai Yasa Jogja juga merupakan perusahaan yang khusus  dalam reparasi lokomotif atau komponen mesin-listrik penggerak KRD/KRDE/KRDI.

Banyak ilmu yang didapat dari kunjungan kali ini terutama bagi teman-teman magatrika 2010 dan 2011 yang ikut terlibat langsung dalam pelaksanaannya. Selain melihat langsung bagaimana sistem kerja dan maintenancenya, kita juga diajarkan kembali ilmu-ilmu dasar tentang motor listrik dan mesin uap.

berikut beberapa dokumentasi di tanggal 24 Oktober kemarin.

This slideshow requires JavaScript.

Posted in kegiatan magat

Seminar Karier Magatrika

IMG-20131016-WA0006

Seminar Karier Magatrika merupakan acara yang dihandle setiap kepengurusan. Kali ini, seminar magatrika menghadirkan alumni yang bekerja di perushaan seperti Exxon dan PLN. Bukan hanya alumni yang bekerja di perushaan, tapi magatrika kali ini juga menghadirkan pembicara dari entrepereneur.

Exxon : Mitsalina Nisrinawati

PLN : Heru Priyatno

Entrepreneur : Eko

Berikut dokumentasi acara dari seminar karir tersebut.

This slideshow requires JavaScript.

Posted in kegiatan magat

Database Magatrika UGM

db

Demi melengkapi database magatrika, pengurus harian magtrika bermaksud untuk melengkapi dan mengupdate data-data yang ada. Mohon bantuannya kepada teman-teman semua untuk mengisi database yang ada. Database ini akan bermanfaat dalam membangun link ke depannya.

Caranya gimana?

Gampang kok… Tinggal klik link di bawah ini. Trus isi data-datanya dan sebarkan kepada teman-teman yang lain buat mengisi database Magatrika ini. Terimakasih atas bantuannya kawan-kawan…

https://docs.google.com/forms/d/1BlhD7Zajb2FV2uPpTZOLDPTfYYdKTbVuSoKUL04hIgw/viewform

Posted in kegiatan magat

Simulasi Pra Pendadaran

Hello guys. Magatrika kembali hadir untuk membantu teman-teman STL semua dalam mempersiapkan diri menghadapi Pendadaran yang sebenarnya. Dari pada gemeteran di depan pas persentasi pendadaran, mending ikut Magat simulasi yang akan diadakan pada hari Jumat, 27 September 2013, pukul 08.00 WIB di Ruang TD JTETI. Yang persentasi bisa dapat wejangan langsung dari beberapa dosen. Mulai dari cara bersikap saat persentasi, cara buat persentasi yang benar, penggunaan EYD, dan masih banyak lagi yang bisa kamu dapatkan disini. Dari sejumlah mahasiswa yang mendaftar ada 6 orang yang sepertinya sudah siap dengan simulasi yang kami adakan. Diantaranya :

indra maulana
Indra Maulana
azim malik
azim malik

 

nur ziz ismail
nur ziz ismail
restu prima aridani
restu prima aridani
sigit harmawan
sigit harmawan
yogi krisna brian hutama
Yogi Krisna Brian Hutama

Bagi teman-teman yang tidak ada kuliah dan selow di kampus, yuk dari pada bengong dan gak ngapa-ngapain, ikut Simulasi Pendadaran dari Magatrika hari jumat, 27 September 2013, pukul 08.00 WIB di Ruang TD JTETI. Acaranya FREE!  Yuk kita gali banyak ilmu dari senior-senior dan dosen pembimbing disana. Dapatkan tips buat persentasi, penggunaan EYD dalam penulisan TA, dll.

1236200_10200624003389963_679682174_n

Alhamdulillah simulasi pendadaran ini berlangsung dengan sukses. Terimakasih kepada para panitia yang mempersiapakan konsep ini matang-matang. Especially buat Shinta, Dennis, Ratih dan Meisita yang telah mengkoordinir pelaksanaanya. Berikut dokumentasi acara kemarin.