Posted in Artikel

Short Course : Ketahanan Energi Nasional Oleh : Dr. Ir. Tumiran, M.Eng (Dewan Energi Nasional)

Sumber daya energi terbagi menjadi 2 (dua) yaitu sumber daya energi potensial dan sumber daya energi proven. Sumber daya energi potensial masih memerlukan biaya investasi untuk eksplorasi yang tidak sedikit. Sumber daya energi proven adalah sumber daya energi yang sudah terbukti dapat menghasilkan energi baik produksi aktif maupun berupa cadangan energi. Data produksi energi fosil dalam negeri dari produksi minyak mentah (crude oil), batu bara, maupun gas alam menunjukan bahwa Indonesia tidak memiliki cukup sumber daya energi proven. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya energi di Indonesia sejatinya mulai diarahkan bukan untuk dijual tetapi digunakan untuk meningkatkan nilai tambah (adden value) produksi dengan menggunakan brainware skill.

Dr. Ir. Tumiran, M.Eng, anggota Dewan Energi Nasional mengungkapkan bahwa knowledge lebih mahal nilainya daripada produk hulu, oleh karena itu diperlukan orang-orang yang memiliki skill untuk mentransformasikan ekonomi Indonesia. Beliau juga mengemukakan bahwa transformasi ekonomi dapat dilakukan dengan mempercepat pembangunan infrastruktur listrik di Indonesia. Dengan demikian, peran pemerintah sebagai penyelenggara kebijakan dapat memberikan ruang pada dunia Industri. Pelaku industri di Indonesia dapat menggunakan knowledge dan uang yang dimilikinya untuk menghasilkan produk. Proses industri yang berlangsung di dalam negeri dapat menyerap tenaga kerja. Pada akhirnya industri akan menghasilkan produk yang sampai pada konsumen.

Dewasa ini, data menunjukan bahwa produksi listrik di Indonesia sebesar 40 GW yang digunakan untuk melayani 240 juta penduduk. Sementara jika kita membandingkan dengan data produksi listrik negara tetangga, Malaysia produksi listrik sebesar 28,5 GW untuk melayani 29 juta penduduk, Singapura 10,5 GW untuk melayani 4 juta penduduk, Jepang 27,5 GW untuk melayani 110 juta penduduk, dan China produksi listrik sebesar 1072 GW untuk melayani 1,35 milyar penduduk.

Dengan infrastruktur listrik yang dapat menghasilkan produksi 40 GW, Indonesia dapat menyerap 50.000 tenaga kerja. Sementara untuk menaikan 1 GW infrastruktur listrik di Indonesia, membutuhkan biaya 20 T. Dr. Ir. Tumiran, M.Eng kembali menambahkan bahwa saat ini kita harus berfokus pada adden value dengan menggunakan transformasi brainware skill. Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki visi, mengingat kondisi Indonesia dimana listrik masih disubsidi oleh APBN sebesar 103 T. Beliau juga menegaskan bahwa saat ini kita harus yakin, kalau tidak yakin kita tidak bisa berkembang. Pertanyaan terbesar bagi pemimpin Indonesia kedepan adalah bagaimana membangun perekonomian yang dapat memberikan nilai tambah (adden value).

Pengelolaan sumber daya energi yang profit oriented membangun mental dagang yang berakibat pengelolaan energi yang tidak suitainable. Sedangkan pengelolaan sumber daya energi yang berfokus pada nilai tambah (adden value) akan menghasilkan brainware skill yang suistainable.

Pada sesi terakhir, Dr. Ir. Tumiran, M.Eng menutup dengan penekankan bahwa saat ini kita tidak hanya harus bekerja keras, tetapi harus bekerja lebih keras lagi. Kita harus kaya, karena kalau kita miskin, harga murahpun kita tidak mampu beli energi.

(Rian Prima Hardiyanto)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s