Posted in Artikel

Pemodelan Motor Induksi dalam Simulink Matlab

  1. PENGERTIAN MOTOR INDUKSI

Motor Induksi adalah suatu motoryang dicatu oleh arus bolak-balik pada statornya secara langsung dan pada rotornya terdapat arus karena induksi dari stator. Arus rotor ini merupakan arus yang terinduksi karena adanya perbedaan relative antara putaran rotor dengan medan putar (rotating magnetic field) yang dihasilkan oleh arus stator.

 2.  PRINSIP KERJA MOTOR INDUKSI

 Motor induksi bekerja berdasarkan induksi elektromagnetik dari kumparan stator kepada kumparan rotornya. Garis-garis gaya fluks yang diinduksikan dari kumparan stator akan memotong kumparan rotornya sehingga timbul emf (ggl) atau tegangan induksi dan karena penghantar (kumparan) rotor merupakan rangkaian yang tertutup, maka akan mengalir arus pada kumparan rotor.

 Penghantar (kumparan) rotor yang dialiri arus ini berada dalam garis gaya fluks yang berasal dari kumparan stator sehingga kumparan rotor akan mengalami gaya Lorentz yang menimbulkan torsi yang cenderung menggerakkan rotor sesuai dengan arah pergerakan medan induksi stator. Pada rangka stator terdapat kumparan stator yang ditempatkan pada slot-slotnya yang dililitkan pada sejumlah kutup tertentu. Jumlah kutup ini menentukan kecepatan berputarnya medan stator yang terjadi yang diinduksikan ke rotornya. Makin besar jumlah kutup akan mengakibatkan makin kecilnya kecepatan putar medan stator dan sebaliknya. Kecepatan berputarnya medan putar ini disebut kecepatan sinkron.

3.   KONSTRUKSI MOTOR INDUKSI

 Capture

  •  Rotor

Rotor adalah bagian dari motor induksi yang berputar. Rotor terhubung ke beban mekanis melalui poros. Konstruksi rotor terdiri dari :

  • Inti rotor, bahannya sama dengan inti stator
  • Alur dan gigi materialnya sama dengan inti, alur tempat                          meletakkan belitan
  • Poros atau as
  • Belitan rotornya bahannya dari tembaga, dari konstruksi lilitan akan memberikan dua macam rotor yaitu:
  1. motor induksi dengan rotor sangkar atau kurung
  2. motor induksi dengan    belitan
  •  Stator

Stator adalah bagian dari motor induksi yang diam. Konstruksi stator terdiri dari :

  • Rumah stator dari besi tuang
  • Inti stator dari besi lunak atau baja silikon
  •  Alur dan gigi, materialnya sama dengan inti, alur (slot) tempat             meletakkan belitan
  • Belitan stator dari tembaga
  •  Celah udara

Diantara stator dan rotor terdapat celah udara dimana energi berpindah dari stator ke rotor.

 4. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MOTOR INDUKSI

 a)      Kelebihan motor induksi

  1. Sangat sederhana dan kuat terutama motor induksi sangkar tupai
  2. Harganya murah dan sangat reliable
  3. Efisiensi sangat tinggi karena tidak menggunakan sikat
  4. Perawatan mudah karena tanpa sikat
  5. Starting mudah

 b)      Kelemahan motor induksi

  1. Kecepatan tidak dapat divariasi, karena variasi kecepatan akan mengorbankan efisiensi motor
  2. Seperti motor DC Shunt, kecepatan berkurang dengan penambahan beban

5. PEMODELAN MENGGUNAKAN MATLAB

Matlab digunakan untuk memodelkan motor induksi.

a)      Diagram Keseluruhan dari Motor Induksi (s1)

Capture

b)      Dalam Blok Qaxis

Capture

c)       Dalam Blok Daxis

 Capture

d)      Dalam Blok Zero_seq

 Capture

e)      Dalam Blok Rotor

Capture

f)       Dalam Blok abc2qds

Capture

g)      Dalam Blok qds2abc

Capture6.  PEMBAHASAN

a)      Analisis Source Code

  • m1.m

tes

File ini merupakan komponen utama dari simulasi model induksi yang terintegrasi dengan subfile p1hp yang berisi nilai parameter-parameter yang dibutuhkan dalam perhitungan serta file s1

p1hp % load 1 hp motor parameters from p1hp.m

Menghubungkan file m1 dengan file p1hp yang berisi nilai dari parameter-parameter yang dibutuhkan dalam perhitungan

Psiqso = 0; % stator q-axis total flux linkage
Psipqro = 0; % rotor q-axis total flux linkage
Psidso = 0; % stator d-axis total flux linkage
Psipdro = 0; % rotor d-axis total flux linkage
wrbywbo = 0; % pu rotor speed

Penginisialisasian nilai awal dari nilai fluks gandeng pada stator dan rotor dalam q-axis dan d-axis , dan nilai awal pada kecepatan rotor dalam pu, semua nilai awal yang diberikan adalah 0.

stop = 2; % use 2 sec simultion time for Fig. in text

nilai 2 yang diberikan adalah gelombang hasil simulasi akan ditampilkan sampai ketika t = 2 detik

tmech_time = [0 0.8 0.8 1.2 1.2 1.6 1.6 tstop];
tmech_value = [0 0 -0.5 -0.5 -1. -1. -0.5 -0.5]*Tb;

Merupakan nilai pembebanan rotor, tmech_value merupakan nilai koefisien pembebanan dikalikan dengan basis torsi, sedangkan tmech_time merupakan waktu yang merepresentasikan perubahan kondisi pembebanan dan berubahan besarnya torsi.

disp(‘Set up for running s1.m or s3.m‘);
disp(‘Perform simulation then type return for plots’);
keyboard
clf;
subplot(4,1,1)
plot(y(:,1),y(:,2),’-‘)
ylabel(‘vag in V‘)
title(‘stator phase to neutral voltage’)
subplot(4,1,2)
plot(y(:,1),y(:,3),‘-‘)
ylabel(‘ias in A‘)
axis([-inf inf -25 25]);
title(‘stator current‘)
subplot(4,1,3)
plot(y(:,1),y(:,5),’-‘)
ylabel(‘Tem in Nm‘)
title(‘developed torque‘)
subplot(4,1,4)
plot(y(:,1),y(:,4),’-‘)
axis([-inf inf 0 1.2]);
ylabel(‘wr/wb‘)
xlabel(‘time in sec‘)
title(‘pu rotor speed‘)

Fungsi berikut berfungsi untuk plotting gambar hasil simulasi, sehingga pada hasil simulasi akan ditampilkan 4 grafik gelombang yakni tegangan stator fase ke netral fase A, arus stator, besarnya torsi elektromekanis dan kecepatan rotor dalam pu.

  • p1ph.mtes

Pada file ini merupakan pemberian nilai-nilai dari parameter yang akan digunakan dalam perhitungan. Dalam file ini juga telah dimasukan rumusan untuk perhitungan parameter lainnya yang dibutuhkan dengan berdasarkan parameter awal yang telah diketahui nilainya.

Sb = 750;   % rating in VA
Prated = 750;   % output power in W
Vrated = 200;   % rated line to line voltage in V
pf = 0.8;

Inisialisasi nilai daya semu, daya aktif, tegangan kerja dan faktor daya.

Irated = Sb/(sqrt(3)*Vrated*pf); % rated rms current

Mencari nilai dari arus kerja dalam rms, dengan rumusan nilai daya aktif dibagi dengan akar 3 yang dikalikan dengan tegangan kerja dan faktor daya

P = 4;      % number of poles
frated = 60;    % rated frequency in Hz
wb = 2*pi*frated;   % base electrical frequency

Inisialisasi jumlah kutub dan frekuensi kerja dari motor induksi serta rumusan mencari basis frekensi listrik

we = wb;
wbm = 2*wb/P;   % base mechanical frequency
Tb = Sb/wbm;    % base torque

Mencari nilai basis torsi dengan rumusan basis daya semu dibagi dengan basis frekuensi mekanis

Zb = Vrated*Vrated/Sb;  %base impedance in ohms
Vm = Vrated*sqrt(2/3);  % magnitude of phase voltage
Vb = Vm; % base voltage
Tfactor = (3*P)/(4*wb); % factor for torque expression

Mencari besarnya basis impedans dan tegangan maksimum serta faktor untuk persamaan torsi

rs = 3.35;  % stator wdg resistance in ohms
xls = 6.94e-3*wb; % stator leakage reactance in ohms
xplr = xls;     % rotor leakage reactance
xm = 163.73e-3*wb;  %stator magnetizing reactance
rpr = 1.99; % referred rotor wdg resistance in ohms
xM = 1/(1/xm + 1/xls + 1/xplr);
J = 0.1;        % rotor inertia in kg m2
H = J*wbm*wbm/(2*Sb); % rotor inertia constant in secs.
Domega = 0; % rotor damping coefficent

Memasukan nilai parameter-parameter yang telah diberikan di bagian pendahuluan, dan kemudian koefisien damping rotor dibuat bernilai 0 sehingga nilai dari torsi damping akan selalu 0

  • s1.m

File ini merupakan deskripsi m-file dari simulink dengan nama s1.

b)      Analisis Blok SIMULINK

  • Keseluruhan Blok Diagram
    Capture

            Blok diagram diatas merupakan kesluruhan diagram untuk simulasi motor induksi. Simulasi yang dimodelkan dalam matlab ini menggunakan stasionary reference frame dimana kecepatan motor akan sama dengan kecepatan sinkronnya.
Simulasi ini mengeluarkan 4 jenis output yang ditampilkan yakni dan tegangan fase ke netral motor, arus motor, torsi elektromekanis motor, kecepatan rotor. Kesemuanya dikelola oleh multiplexer 5-1 yang ditambah dengan clocknya. Multiplexer ini dihubungkan ke scope dan ke workspace. Scope berfungsi untuk melihat keluaran gelombang dan workspace untuk dikeluarkan hasilnya dalam bentuk matriks pada workspace Matlab.
Clock merupakan fungsi untuk variabel waktu yang digunakan untuk mengubah-ubah fase tegangan, agar menjadi 3 fase gelombang diatur agar memiliki perbedaan fase sebesar 1200 . Kemudian ketiga fase a,b dan c masuk kedalam blok abc2qds untuk mentransformasikan ketiga fase tersebut ke dalam konfigurasi qd0. Keluaran blok dq0 akan terbagi menjadi 3, yakni fase d, fase q, dan fase 0. Masing-masing akan masuk ke dalam blok diagram yang berbeda-beda. Keluaran d akan masuk blok d axis, keluaran q akan masuk ke dalam blokq axis, dan keluaran 0 akan masuk ke dalam blok zero sequence.
Keluaran blok d axis dan q axis akan masuk ke blok rotor. Blok ini akan mengolah torsi yang terjadi pada moto, dimana inputnya juga ditambahkan berupa torsi mekanis yang nilainya diubah-ubah dalam source code m1.
Sementara itu, keluaran arus baik dari blok d axis, q axis, dan zero sequence akan masuk ke blok diagram qds2abc, untuk mentransformasikan komponen qd0 sebelumnya ke konfigurasi abc. Umpan balik berupa arus a, b dan c diberikan kembali pada blok transformasi abc2qds. Dan blok product digunakan untuk mengalikan dari dua sumber konektor untuk didapatkan output hasil perkaliannya.

  • Blok q-axis
    Capture

Persamaan 6.112
Capture
Persamaan 6.113
Capture
Persamaan 6.115
Capture
Persamaan 6.117
Capture

Blok diagram ini diawali oleh 2 multiplexer 3-1. Multiplexer pertama memiliki 3 input yakni : flux linkage motor (psiqm) pada simulink dilambangkan dengan u[1], tegangan stator pada sisi konfigurasi q yang dilambangkan dengan u[2], tegangan ini merupakan keluaran dari blok transformasi abc2dqs dan flux linkage stator pada sisi konfigurasi (psi1s) yang dilambangkan dengan u[3], psi1s adalah flux linkage pada sisi konfigurasi q.
Ketiga input tersebut dimasukan pada persamaan 6.112 untuk mendapatkan keluaran berupa flux linkage stator sisi q. Nilai psiqs juga akan berfungsi sebagai input pada multiplexer. Oleh karena itu Formula mencari nilai psiqs adalah:
Capture
Kemudian multiplexer yang kedua juga merupakan multiplexer 3-1. Input yang diberikan adalah psiqr atau flux linkage rotor pada sisi konfigurasi q, dan nilai rotor akan dilihat dari sisi komponen stator  yang dilambangkan dengan u[1], berikutnya adalah hasil perkalian antara kecepatan rotor dengan flux linkage rotor pada sisi d yang dilamabangkan dengan u[2] dan yang terakhir adalah flux linkage motor (psiqm) yang selanjutnya akan disebut u[3].
Ketiga input diatas akan dimasukan pada rumusan persamaan 6.113 untuk mendapatkan keluaran berupa flux linkage rotor sisi q, kemudian nilai psiqr juga akan berfungsi sebagai input pada multiplexer. Rumusan mencari nilai psiqr adalah:
Capture
Hasil keluaran multiplexer baik multiplexer satu maupun dua, akan digunakan pada perhitungan tahap selanjutnya yakni pada tiga multiplexer selanjutnya. Hasil multiplexer satu (psiqs) akan dipergunakan untuk masuk ke multiplexer satu dan multiplexer dua, sedangkan psiqr akan masuk ke multiplexer dua dan tiga. Namun multiplexer yang digunakan adalah mux 2-1. Mux memiliki dua  input yakni hasil dari keluaran perhitungan tahap pertama (psiqs dan psiqr).
Multiplexer satu terhubung dengan rumusan untuk mendapatkan nilai arus stator sisi q. Multiplexer dua terhubung dengan rumusan untuk mendapatkan nilai flux linkage motor. Dan multiplexer tiga terhubung untuk mendapatkan nilai arus rotor pada sisi q.
Multiplexer satu selain mendapatkan input dari psiqs juga mendapatkan input dari psiqm, psiqs adalah u[1] dan psiqm adalah u[2]. Sementara itu multiplexer tiga selain mendapat input dari psiqr juga mendapat input dari psiqm, psiqr adalah u[1] dan psiqm adalah u[2]. Multiplexer kedua mendapat input dari psiqr dan psiqs, u[1] dan u[2]. Rumusan yang digunakan ada pada persamaan 6.115 dan 6.117.

Rumusan pada multiplexer satu adalah
Capture
Rumusan pada multiplexer dua adalah:
Capture
Rumusan pada multiplexer tiga adalah
Capture
Keluaran dari blok ini yaitu psids, iqs, psiqs, dan iqr.

  • Blok d-axis
    Capture

Persamaan 6.112
Capture
Persamaan 6.113
Capture
Persamaan 6.115
Capture
Persamaan 6.117
Capture

Hal yang sama juga dilakukan untuk mendapatkan nilai input output dengan parameter dan rumusan seperti yang telah dilakukan pada blok q axis, yang rumusannya menggunakan persamaan di atas, sehingga didapat :
Capture
Keluaran dari blok ini sendiri ada empat. Yaitu psids, ids, psiqs, dan idr.

  • Blok Zero Sequence
    Capture

Blok diagram ini adalah untuk blok zero sequence. Blok ini bertujuan untuk mengolah keluaran dari blok diagram abc2dqs khususnya yang berupa urutan 0. Blok tersebut merupakan bentuk dari rumusan:
Capture
Persamaan di atas, didapat dari langkah-langkah di bawah ini:

Capture
Apabila kita integralkan kedua sisi akan didapatkan:

Capture
Sebagaimana diketahui, Capture, maka persamaan di atas berubah menjadi:

Capture
KarenaCapture , maka apabila disubtitusikan ke persamaan diatas, menjadi:

Capture
Apabila persamaan di atas dirubah bentuknya, maka akan menjadi:

Capture
Persamaan di atas akan sama dengan persamaan yang digunakan pada blok diagram ini. 

  • Blok Rotor
    Capture

Persamaan 6.118
Capture
Persamaan 6.120

Capture

Blok diagram untuk operasi yang terjadi pada rotor. Blok ini digunakan untuk mencari nilai torsi yang terjadi pada motor. Sebagaimana persamaan torsi yang beroperasi pada rotor:
Capture
Nilai dari Capture sendiri didapatkan dari formulasi yang melibatkan flux linkage pada fase q dan d serta arus stator yang mengalir pada fase q dan d. Keempat inputan tersebut akan menjadi input dari multiplexer 4-1. Dimana flux linkage fase d adalah input pertama dan disebut sebagai u[1], flux linkage fase q akan menjadi input ketiga sebagai u[3], dan arus stator fase q dan d masing-masing adalah input kedua dan keempat yang dilamabangkan dengan u[2] dan u[4]. Semua input tersebut digunakan didalam formulasi berikut sesuai dengan persamaan 6.118

Capture
Dimana

Capture
P adalah jumlah kutub motor induksi.
Sementara itu, nilai Capture didapatkan pada perhitungan di source code m1. Yang mana merupakan nilai torsi mekanis yang terjadi pada rotor tersebut. Kemudian Capture adalah torsi yang diakibatkan oleh gesekan pada motor. Nilai torsi ini sendiri didapatkan dari nilai torsi yang didapatkan dari perkalian antara keluaran blok ini, yaitu kecepatan rotor, dengan koefisien damping.

            Untuk mendapatkan keluaran blok yang berupa kecepatan rotor, maka hasil keluaran torsi yang dikalikan dikalikan dengan 1/2H harus diintegralkan. H sendiri merupakan rasio dari energi kinetis yang dihasilkan rotor dengan daya yang dihasilkan. Rumusan di atas dapat diperoleh dari langkah-langkah di bawah ini:
Capture
Karena nilai Capture , maka

Capture
Diketahui bahwa :

Capture

Karena diinginkan untuk mendapatkan hasil dalam bentuk p.u. , maka hasil torsi yang didapat perlu dijadikan kondisi p.u. pula. Sehingga bila disubtitusikan akan menjadi sesuai persamaan 6.120 diatas :
Capture

Karena
Capture
maka
Capture

Maka nilai  wr/wb adalah :
Capture

Persamaan diatas adalah sama dengan bentuk blok diagram di bawah ini:
tes

  • Blok Transformasi abc ke qd0

 tes

Blok ini adalah blok transformasi konfigurasi abc ke qds atau qd0. Ada empat input bagi blok ini. Tiga input berasal dari tegangan input motor dan satu input berasal dari penjumlahan arus stator yang didapatkan. Untuk keluaran tegangan akan masuk kedalam multiplexer 3-1. Tegangan fase a akan menjadi keluaran pertama (u[1]), tegangan fase b akan menjadi keluaran kedua (u[2]), dan tegangan fase c akan menjadi keluaran ketiga (u[3]). Semua keluaran akan digunakan dalam rumusan untuk mencari nilai pada konfigurasi qd0.
Rumusan yang digunakan untuk mencari nilai dalam konfigurasi qd0 adalah sesuai dengan persamaan 6.106 pada blok transformasi stator dibawah :

Capture
Hasil yang didapatkan pada Vq dan Vd adalah keluaran blok ini. Sementara nilai V0 harus dikurangi dengan nilai Vsg. Nilai Vsg sendiri merupakan tegangan stator ke netral. Nilainya sendiri bergantung pada nilai kapasitansi dari stator ke ground (Csg). Nilai Csg adalah :

Capture
Sementara untuk mendapatkan nilai Vsg didapat dari

Capture
Ketika fase netral stator terhubung ke netral, maka nilai Csg akan bernilai tidak terbatas dan nilai 1/Csg akan dianggap 0.

  • Blok Transformasi qd0 ke abc
    tes
     

Blok diagram ini berfungsi untuk mentransformasi balik-kan nilai arus stator yang didapatkan dari konfigurasi dq0 ke konfigurasi abc. Arus q stator akan menjadi input pertama ke multiplexer dan dianggap sebagai u[1]. Arus d stator akan menjadi input kedua dan dianggap sebagai u[2]. Dan arus 0 stator akan menjadi input ketiga dan dianggap sebagai u[3].

            Nilai tersebut akan dimasukkan kedalam rumusan dibawah ini untuk mendapatkan nilai arus dalam konfigurasi abc.
Capture 

  • Blok transformasi stator
    tes
    Persamaan 6.106

tes

 Persamaan 6.109

tes

  • Blok transformasi rotor
    tes

Persamaan 6.107
tes

Persamaan 6.108
tes

Persamaan 6.110
tes

Persamaan 6.111 

tes

c)       Grafik Hasil Simulasi

  • Tegangan Fase ke Netral, Fase A (V­ag)
    tes
  • Arus Starting
    tes
  •  Torsi Elektro Mekanis
    tes

 

  • Kecepatan Putar Rotor
    tes

 

d)      Analisis Hasil Simulasi

  • Tegangan Fase ke Netral, Fase A (Vag)

Pada gambar simulasi yang pertam dapat dilihat bahwa terdapat gelombang tegangan berbentuk sinusoidal, tegangan yang terukur pada simulasi adalah tegangan fase ke netral, dengan nilai yang dapat diperhitungkan dengan rumusan berikut :
Capture

Nilai tegangan yang diberikan diawal merupakan tegangan fase ke fase dengan besar 200 V, nilai tersebut merupakan nilai tegangan nominal (RMS), sehingga untuk mencari nilai RMS tegangan fase ke netrar nilai tersebut dibagi dengan akar 3 dan untuk mendapatkan tegangan peak to peaknya nilai tersebut dikalikan dengan akar 2

Dapat dilihat bahwa hasil perhitungan dan hasil simulasi nilainya cukup dekat.

tes

  • Arus Starting dan Arus Kerja

Pada Grafik yang kedua terdapak grafik Arus, terlihat saat proses awal nilai arus sangat besar, hal ini merupakan arus starting motor, dimana arus yang besar akan dibutuhkan untuk menghasilkan torsi yang besar untuk memutar rotor dari keaadaan diam sampai mencapai kondisi steady state. Oleh karena itu setelah motor dapat mencapai kecepatan yang stabil, maka arus yang dibutuhkan akan menjadi lebih kecil. Namun Kondisi besarnya arus ini juga sangat dipengaruhi oleh pembebanannya, oleh karena itu ketika beban bertambah maka torsi yang dibutuhkan akan bertambah besar, sebaliknya jika beban berkurang maka torsi juga akan berkurang. Hasil pada simulasi dapat diperhitungkan sebagai berikut :

CaptureDiketahui bahwa daya aktif (P) total sebesar 750 Watt, maka daya per fasenya adalah P dibagi 3 yakni 250 Watt. Kemudian tegangan yang digunakan adalah tegangan per fase yang besarnya

CaptureKemudian besarnya arus adalah :

CaptureDapat dilihat pada hasil simulasi bahwa besarnya arus kerja cuku dekat dengan hasil perhitungan.

Capture

  • Torsi Elektromekanis

Untuk menggerakan rotor motor dibutuhkan torsi elektromekanis, sehingga pada saat starting motor, dapat dilihat bahwa nilai torsi akan sangat besar. Torsi merupakan gaya yang dibutuhkan untuk memutar rotor motor, oleh karena itu torsi yang dibutuhkan untuk memutar motor dari keadaan diam sampai berputar dengan kecepatan yang stabil akan besar. Kita dapat memperhitungkan besarnya torsi elektromekanis dengan rumusan berikut:
Capture

Karena tidak memiliki nilai transformasi, maka torsi elektromekanis dapat dicari dengan rumusan berikut :
Capture

Kita ketahui bahwa torsi damping bernilai 0 sesuai yang diinisiasikan pada M-file bahwa nilai koefisien damping dari rotor adalah 0
tes
Sehingga rumusan untuk mencari torsi elektromekanis menjadi :

Capture

Kemudian kita mencari nilai dari torsi mekanis dengan rumusan berikut :
Capture

Sedangkan Nilai dari Basis torsi adalah :
Capture

Karena Nilai dari Wr/Wb adalah suatu konstanta dan ketika diturunkan terhadap waktu maka nilainya akan menjadi 0.

Sehingga bila kita mencari nilai torsi elektromekanis akan menjadi :
Pada inisiasi source code terdapat 3 jenis pembebanan yang berbeda yakni kondisi tanpa beban (no load), kondisi kedua saat koefisien torsi mekanis bernilai -0,5 dan saat torsi mekanis bernilai -1

  • Saat t = 0,7 ; tmech_value = 0
    Capture

Hasil pada simulasi :
Capture

  • Saat t = 1 ; tmech_value = -0,5
    Capture
  • Saat t = 1,4 ; tmech_value = -1
    Capture

Nilai yang didapat dari hasil perhitungan cukup dekat dengan hasil simulasi.

  • Wr/Wb

Wr/Wb adalah kecepetan putar rotor dari motor induksi, yang pada simulasi dinyatakan dalam pu. Rumusan yang digunakan adalah :
Capture

Sehingga diketahui bahwa yang mempengaruhi kecepatan putar rotor adalah torsi elektromekanis, torsi mekanis dan torsi damping.

Bial diamati berdasarkan grafik hasil simulasi diketahui bahwa saat starting kecepatan putar sangat tinggi, dari keadaan diam sampai mencapai keadaan dimana kecepatan putar motornya mencapai nilai maksimum dan stabil (steady state). Bila diamati secara keseluruhan kenaikan kecepatan putar rotor ini hanya berlangsung selama 0 – 0,6 detik, hal ini jugalah yang mempengaruhi nilai torsi elektromekanis dan arus starting saat rentang waktu tersebut sangatlah besar.

7.  KESIMPULAN

  1. Untuk memudahkan perhitungan parameter dan komponen dari suatu motor induksi maka digunakan transformasi dari fase abc ke bentuk konfigurasi dq0. Yang tindaklanjutnya biasanya digunakan untuk mengatur kecepatan motor dan analisis kecepatan motor terhadap pengaruh pembebanan.
  2. Simulasi dilakukan dengan blok diagram simulink dengan software matlab, dimana terdapat 3 file yakni m1 berupa kerja dari keseluruhan motor induksi, p1hp file yang menginisiasi nilai-nilai parameter motor induksi dan s1 merupakan file yang menghubungkan simulink dengan program.
  3. Tegangan Fase ke netral dengan nilai maksimum dapat dicari dengan rumusan :
    Capture
  4. Pada saat starting yakni dari kondisi diam sampai mencapai putaran yang stabil, arus pada motor induksi akan sangat besar yakni dibandingkan arus kerjanya yakni sekitar 6-8 kali arus kerjanya, hal ini disebabkan karena dibutuhkan torsi yang besar saat starting motor.
  5. Besarnya Torsi Elektromekanis ditentukan oleh rumusan berikut :
    Capture
  6. Besarnya kecepatan putar rotor ditentukan dengan rumusan berikut :
    Capture

Dimana nilainya akan stabil setelah kondisi starting karena percepatannya adalah 0.

Full text as pdf :
http://www.4shared.com/office/ICyvkHemce/artikel_magat.html

Oleh :

M. Ibadurrohman (2011)
Maulana Hidayatullah (2011)
Rian Prima Hardiyanto (2011)

Divisi Mesin Magatrika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s