Posted in Artikel

DISIPLIN (BUTA) VS ANTUSIASME

Tiba-tiba saja, kepala pemuda itu dicengkeram dengan sangat kuat. Ia ingin berontak tapi tak kuasa. Tangan yang kokoh memaksa kepalanya masuk ke dalam kolam dingin. “Udara, aku butuh udara! Heeekkkk “. Wajah dan seluruh rambut sang pemuda terbenamkan. Sebagian air tak sengaja masuk ke dalam paru-parunya. Hidungnya terasa panas dingin. Ia berontak agar terlepas dari tangan itu. Semakin lama, semakin liar usahanya. Akhirnya, tangan itupun melepaskan kepalanya. Ia terengah-engah.

Itulah nasib seorang pemuda yang ingin belajar pada Socrates. “Jika kau menginginkan pengetahuan seperti tadi kau menginginkan udara, baru kau akan mendapatkannya.“ ujar Socrates. Rupanya socrates sedang mengajarkan hal penting yang harus dimiliki dalam mencari ilmu yaitu, antusiasme. Sejak saat itu sang pemuda belajar dengan penuh semangat. Padahal tak ada reward and punishment.

Hmm, pernahkah kita menginginkan pengetahuan seperti itu?

Dulu, sebelum masuk sekolah, kita pernah merasakan antusiasme semacam itu. Inget nggak, dulu kita senang banget bermain sekolah-sekolahan. Walaupun belepotan ingus kental kehijauan, kita tak peduli. Kita juga terus bertanya dan bertanya tentang apa saja. Kita ingin tahu.

Sayang, setelah kita benar-benar masuk sekolah, keceriaan itu hilang. Antusiasme itu digantikan oleh disiplin buta. Harus begini harus begitu, kalau nggak dihukum. Akibatnya, kita lebih suka berpura-pura sakit perut daripada ke sekolah. Ketika bel tanda pulang berbunyi, kita kompak berteriak “Horeee!” sambil mengacungkan kedua tinju ke atas. Sekolah seperti penjara, sehingga kepulangan harus dirayakan segitunya.

Menurut peraturan sekolah, anak yang baik dan pintar adalah anak-anak pendiam, tak pernah ribut, selalu melipat kedua tangannya di atas meja, dan pandangan selalu lurus ke depan kelas. Anak-anak kinestetik yang belajar dengan cara bergerak, seringkali dicap anak nakal. Padahal belum tentu lho! Akhirnya, anak-anak yang dicap nakal benar-benar meyakini bahwa diri mereka nakal dan gagal dalam ulangan umum.

Anak-anak yang tidak buat PR dipastikan mendapatkan hukuman. Sayangnya, hukuman yang diberikan tidak meningkatkan antusiasme siswa untuk belajar. Hukumannya berdiri dengan satu kaki di depan kelas, piket, dan push up. Akhirnya anak-anak yang dianggap nakal memiliki otot yang besar, modal yang bagus untuk jadi preman! Lihatlah, bagaimana disiplin buta telah membunuh potensi para jenius.

Saya jadi teringat perkataan seorang begawan psikologi Profesor Buckminster Fuller, kira-kira bunyinya “Jika ada 10.000 anak yang dilahirkan jenius, maka 9.999 di antaranya segera menjadi idiot karena orang dewasa yang berada di sekitarnya”. Salah satu yang membuat idiot adalah disiplin buta yang mereka terapkan.

Setelah dewasa, kitapun terbiasa dengan pola disiplin buta. Antusiasme jarang hadir dalam kehidupan kita. Banyak orang yang gagal menikmati hidupnya karena tidak mengenal antusiasme. Banyak juga orang yang tidak lagi menyukai belajar, karena sudah tidak ada lagi reward and punishment. Padahal kita disuruh “Membaca”!

Tapi sudahlah, walaupun kita tak bisa kembali ke masa lalu dan membuat awal yang baru…Kita atau siapapun juga tetap bisa memulai sejak sekarang dan membuat akhir yang baru… 304226_2579931627046_333104173_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s