Posted in kegiatan magat

7 Pelajaran Dari Cinemagat 30 November 2013

Penghujung bulan November 2013, tepatnya tanggal 30 ini, Magatrika mengadakan kegiatan nonton bareng di ruang Magat tercinta. Berbekal satu buah infokus dan satu buah layar hasil pinjaman dari KMTETi, ruang mungil kita itu untuk semalam kita ‘sulap’ menjadi bioskop mini. Sesuai rencana, film yang akan ditonton dipilih dari 3 film yang ditawarkan, yaitu ‘Coach Carter’, ‘A Man Who Was Superman’, dan ‘Secret of Nikola Tesla.’ Dan berdasarkan kesepakatan yang hadir, dipilihlah film Coach Carter, dan film diputar pada pukul 19.56.

Terus terang, saya sendiri belum pernah menonton film ini, hanya saja saya pernah baca resensinya, yang makin membuat saya penasaran dan ingin segera melihat langsung film-nya. Terlebih, berdasarkan informasi yang saya dapat, film ini berdasarkan kiash nyata. Film coach carter ini dirilis pada tahun 2005, dan mengisahkan tentang sepak terjang seorang pelatih pengganti tim bola basket SMA Richmond Oilers, yang bernama Ken Carter. Sang pelatih diperankan dengan sangat apik oleh Samuel L. Jackson, yang pasti sudah tidak asing lagi bagi pecinta dunia film.

Pukul 19.56, film diputar. Beberapa memerhatikan karena tertarik (Seperti Gatya, Magatrika ’10 dan termasuk saya ), beberapa ada yang sudah nonton dan memberikan spoiler (seperti Wantok dan Caesar, Magatrika ‘10), dan beberapa ada yang malah bermain game PES 2014 (seperti Veby, Magatrika ’10 dan lawannya yang silih-berganti).  Namun ketika film dimulai, semua fokus tertuju pada film karena film ini semakin menarik.

Bagian awa film menampilkan scene di mana sang pelatih baru, masuk menemui anak-anak didikannya. Pelatih Carter mendapatkan informasi bahwa, walaupun memiliki kemampuan bermain basket, tetapi moral dan kemampuan akademik anak-anak didiknya itu sangat buruk. Untuk memperbaiki hal tersebut, pelatih Carter memiliki cara sendri. Hari pertama ia bertemu anak-anak didiknya, dia membuat sebuah kontrak kerja yang mana di antaranya berisi perjanjian bahwa anggota tim basket harus memiliki nilai minimal 2.3 (padahal standar sekolah hanya 2.0), harus hadir di setiap kelas dan duduk di barisan kursi terdepan, dan harus menggunakan dasi ketika dating ke pertandingan. Dia bahkan menekan anak-anak didiknya itu untuk menambahkan kata’sir’ sebagai penghormatan ketika berkomunikasi dan meninggalkan kata kasar yang sering mereka ucapkan seperti ‘nigger’ (sebutan untuk orang kulit hitam, negro, yang memiliki kesan ejekan). Melihat kesepakatan yang bagi mereka tak masuk akal tersebut, beberapa orang langsung mengundurkan diri, termasuk beberapa pemain inti yang memiliki kemampuan hebat. Tapi hal tersebut sama  sekali tidak menciutkan sang pelatih.

Anak-anak yang bertahan di tim segera merasa segan dengan pelatih baru mereka, karena berhasil melumpuhkan serangan salah seorang murid bernama Cruz yang tidak setuju dengan kesepakatan tersebut, dan yang pasti keseganan mereka bertambah ketika melihat nama “Ken Carter” pada spanduk nama-nama pemain terbaik di lapangan basket sekolah mereka.

Pelajaran Pertama: Milikilah kemampuan, maka kita akan lebih dihargai

Latihan sejak hari itu hingga hari-hari kedepan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah disepakati. Bila ada pelanggaran, maka hukuman tak ragu-ragu diberikan oleh sang pelatih. Bahkan tak jarang sang pelatih mengecek ke dalam kelas anak-anak didiknya, dan dia juga meminta laporan perkembangan akademis mereka.

Pelajaran Kedua: Kontrol setiap kebijakan dan kesepakatan, lalu tegaslah dalam menerapkannya

Latihan rutin dilaksanakan setiap hari, dan pelatih Carter memiliki cara yang unik dalam menyusun strategi bagi timnya; membuat pola serangan dengan nama wanita. Dia sepertinya cukup paham tipikal anak-anak didiknya yang selalu tertarik dengan makhluk bernama wanita, dan sesuai harapan, anak-anak didiknya dengan mudah memahami dan menghafal setiap pola strategi yang diajarkan oleh sang pelatih.

Pelajaran Ketiga: Pilihlah metode yang paling efisien bagi tim, sehingga strategi dapat berjalan dengan optimal

Semua sejauh ini terlihat lancer? Ya, tapi tidak berlangsung lama. Sederet masalah muncul, mulai dari praktik kaburnya seluruh anggota tim, Cruz yang selalu tidak bisa mengendalikan emosinya, tim yang ternyata tidak mematuhi kontrak, dan lain-lain, sehingga pelatih Carter terpaksa menutup tempat latihan dan membatalkan beberapa pertandingan penting. Anak-anak didiknya dipaksa untuk meningkatkan kualitas akademik mereka di perpustakaan. Kebijakan ini tak hanya mendapat penolakan dari anak-anak didik tersebut, tetapi juga dari kepala sekolah dan orang-orang di kota Richmond, karena tim basket kebanggaan mereka yang sedang naik daun malah tidak bisa lagi bertanding. Namun pelatih Carter tidak bergeming dan tetap pada pendiriannya. Dia yakin bahwa anak-anak didiknya adalah seorang ‘pelajar yang bermain basket’, bukan ‘pemain basket yang belajar’.

Pelajaran Keempat: Teguhlah pada pendirian kita, tetapi jangan lupa pastikan bahwa kita ada di tempat yang berpihak pada kebenaran.

Sebelumnya anak dari pelatih Carter juga masuk tim basket Richmond. Dia rela pindah dari sekolah St. Francis yang terkenal memiliki prestasi akademik yang baik, dan lebih dari itu, st. Francis merupakan peringkat 1 bola basket Nasional. Dia hanya ingin dilatih bermain basket oleh ayahnya, karena dia percaya bahwa ayahnya adalah pelatih bola basket terbaik. Sebenarnya pelatih Carter tidak setuju, karena menurutnya anaknya itu bisa lebih berkembang secara akademis di sekolah st. Francis. Namun akhirnya pelatih Carter setuju. Implikasinya, sang anak juga wajib menaati peraturan tim basket Richmond. Hari pertama, anak pelatih Carter terlambat karena harus menemui gurunya. Tapi ketegasan pelatih Carter tidak berkurang walaupun ke anaknya sendiri.

Pelajaran Kelima: Terapkanlah kebijakan tanpa pandang bulu, sehingga tidak membuat jurang pemisah dan perasaan ketidakadilan bagi yang lain.

Karena bertambahnya pihak yang tidak setuju dengan pelatih Carter, di proses persidangan pun diputuskan bahwa pelatih Carter harus membuka kembali tempat latihan. Dan pelatih Carter berniat untuk mengundurkan diri, karena dia merasa dipaksa untuk tidak menjalankan caranya dalam mendidik tim basket Richmond. Tapi sebelumnya, pada proses persidangan pelatih Richmond sempat mengungkapkan hal yang mungkin bisa mengubah moral timnya. Dia berkata bahwa jika sejak SMA saja anak-anak tidak dididik untuk taat para aturan dan kesepakatan, maka kita hanya tinggal menunggu waktu mereka untuk melanggar aturan yang lebih besar, dan berakhir di penjara sebagai seorang criminal.

Ketika dia melangkah menuju lapangan basket untuk berbenah, dia melihat barisan kursi belajar dan dia dapati tim basketnya sedang belajar, dan menunjukkan diri bahwa mereka mau berubah. Hal ini sungguh mengejutkan pelatih Carter. Ternyata kalimat dan pendiriannya di persidangan bisa mengubah pendangan timnya.

Pelajaran Keenam: Jangan takut untuk membela kebenaran, karena manusia pada akhirnya akan menyerah di depan kebenaran.

Akhirnya, prestasi akademis tim meningkat pesat. Tak hanya itu, prestasi bola basket merekapun meningkat. Bahkan mereka berkesempatan bertanding melawan st. Francis. Dan ya, di pertandingan itu mereka kalah tipis. Kecewa pasti ada, namun pelatih Carter menyemangati mereka bahwa mereka telah bertanding seperti seorang juara. Bagi sang pelatih, mereka adalah juaranya. Merekapun disambut dengan meriah ketika keluar dari ruang ganti pemain. Tapi tak berhenti sampai disitu, ternyata 6 anggota tim senior mereka berhasil melanjutkan studi ke Universitas. Bahkan anak pelatih Carter berhasil memecahkan rekor ayahnya sebagai pencetak skor terbanyak di SMA Richmond dan pada tahun berikutnya berhasil masuk ke akademi militer.

Pelajaran Ketujuh: Kewajiban kita adalah berjuang, bukan menang.

Ya, walau Cinemagat edisi kali ini tidak berhasil diselesaikan karena durasi film yang cukup lama (Takut Portal Fakultas keburu ditutup), tapi saya pribadi benar-benar menikmati film ini. Film yang baik tentang bagaimana mempertahankan sebuah idealisme, yang pastinya sangat kita butuhkan ketika kita menghadapai dunia pasca-kampus. Setelah diakhiri secara paksa, kami kembali menata ruang magat seperti sedia kala, dan keluar bersama dari kampus. Beberapa ada yang mampir ke kopi joss seperti Afif, Veby, Caesar, dan lain-lain, walau saya sendiri tidak ikut karena sudah terlalu larut.

Tetap semangat untuk pihak-pihak yang telah membantu acara Nonton bareng pertama Magatrika ini, Ikhwan Luthfi a.k.a Wantok, Veby Enandes, Mukhlis Nur Afif, Sholihatta Aziz a.k.a Adul, Alfian Harfin, Gatya Wijaya, Agung Ilham, Goldwin Caesar, dan lain-lain. Semoga Cinemagat ke depan tambah rame, tambah banyak snack, dan tambah banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Dan walaupun judul tulisan ini ‘7 Pelajaran’, tapi sesungguhnya ada lebih dari itu pelajaran yang bisa saya ambil dari acara Cinemagat ini. Mari kita buktikan bahwa ilmu juga bisa didapat di luar kelas kuliah.

MA…WHAT???

MAGAT!!!

THE POWER IS IN OUR HAND

Musofa Mulya, Magatrika ‘10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s