Posted in Artikel

Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (sampah)

Saat ini, ketersediaan energi fosil semakin berkurang, khususnya minyak bumi. Setelah terjadinya krisis energi yang pernah mencapai puncak sekitar dekade 1970-an, dunia saat ini menghadapi kenyataan bahwa persediaan minyak bumi, sebagai salah satu tulang punggung produksi energi terus berkurang. Di masa mendatang, dunia akan terancam semakin kesulitan untuk menemukan dan menggunakan sumber energi dari fosil. Eksplorasi yang telah dilakukan, konsumsi dalam jumlah besar serta pertambahan penduduk yang tinggi di masa depan, akan membuat persediaan energi fosil khususnya minyak bumi tidak dapat mengimbangi permintaan terhadap kebutuhan energi.
Para ahli berpendapat, dengan pola konsumsi seperti sekarang diperkirakan dalam waktu 50 tahun ke depan cadang minyak bumi dunia akan habis. Keadaan ini bisa diamati dengan kecenderungan meningkatnya harga minyak di pasar dalam negeri dan ketidakstabilan harga minyak di pasar internasional (Pinske, 2000). Jumlah pemakaian energi di Indonesia masih sangat tergantung dari bahan bakar fosil. Jika hal ini terus berlanjut makan bisa saja terjadi krisis global akibat semakin sedikitnya bahan baku fosil ini.

Sebuah pembangkit listrik tenaga biogas dapat mengkonversi sampah organik, seperti : kotoran hewan, tanaman hijau, limbah dari industri agro dan rumah pemotongan hewan menjadi biogas. Biogas dapat digunakan dengan cara yang mirip dengan pemanfaatan gas alam seperti : gas, lampu, kompor atau sebagai bahan bakar untuk mesin. Biogas terdiri dari metana 50-75%, 25-45% karbon dioksida, uap air 2-8% dan O2, N2, H2 NH3 H2S. Bandingkan ini dengan gas alam, yang berisi metana 80 sampai 90%. Isi energi gas tergantung pada kandungan metananya. Kandungan metana yang tinggi itulah yang ingin dihasilkan. Adanya kadar karbon dioksida dan air uap tentu tidak dapat dihindari, namun kadar sulfur harus diminimalkan terutama penggunaannya di sebuah mesin.
Oleh karena itu dewasa ini sumber energi baru terbarukan sedang digalakkan di Indonesia. Dari beberapa data masih terlihat dominasi penggunaan batubara, minyak bumi dan gas sebagai sumber energi. Kondisi ini sangat disayangkan mengingat Indonesia menyimpan potensi biomassa yang begitu melimpah. Jika potensi ini dapat dimanfaatkan dengan maksimal maka akan memecahkan permasalahan energi yang terjadi selama ini, salah satu sumber biomassa yang mudah didapatkan dan berada disekitar kita adalah sampah.

 Image
Berdasar perhitungan Bappenas dalam buku infrastruktur Indonesia pada tahun 1995 perkiraan timbunan sampah di Indonesia sebesar 22.5 juta ton dan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2020 menjadi 53,7 juta ton. Sementara di kota besar produk sampah perkapita berkisar antara 600-830 gram per hari (Mungkasa, 2004). Berdasarkan data tersebut maka kebutuhan TPA pada tahun 1995 seluas 675 ha dan meningkat menjadi 1610 ha di tahun 2020. Kondisi ini akan menjadi masalah besar dengan terbatasnya lahan kosong di kota besar. Menurut data BPS pada tahun 2001 timbulan sampah yang diangkut hanya mencapai 18,3 %, ditimbun 10,46 %, dibuat kompos 3,51 %, dibakar 43,76 % dan lainnya dibuang di pekarangan pinggir sungai atau tanah kosong sebesar 24,24 %. hal ini membuktikan bahwa potensi biomassa di Indonesia begitu melimpah.

 Image

Ada dua cara untuk menjadikan biomassa sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi listrik, cara yang pertama adalah dengan membakar langsung biomassa padat sehingga boiler menghasilkan uap. Cara yang kedua adalah dengan melakukan fermentasi atau bisa juga disebut anaerobic disgestion yang nantinya akan menghasilkan biogas dengan kandungan metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) dan gas gas lainnya yang dapat dijadikan bahan bakar boiler untuk menghasilkan uap, ataupun dengan cara biogas sudah terbentuk langsung dimasukkan kedalam generator untuk menghasilkan listrik tanpa perlu menggunakan boiler untuk menghasilkan uap yang dapat memutar turbin.
Image
Melalui proses gasifikasi 4-8 kg biomassa diperkirakan dapat dimanfaatkan sebagai pengganti 1 liter bahan bakar minyak. Jika proses gasifikasi disambung dengan diesel generator 1,2 – 2 kg/jam biomassa diperkirakan dapat menghasilkan 1 KWh listrik. Produksi listrik dari biogas dapat menjadi metode yang sangat efisien untuk menghasilkan listrik dari sumber energi terbarukan. Namun, ini hanya berlaku jika panas yang muncul dari generator listrik dapat digunakan dengan cara yang ekonomis dan ramah lingkungan. Nilai kalor rata-rata biogas adalah sekitar 21-23,5 MJ / m³, yang berarti bahwa 1 m³ biogas sesuai dengan 0,5-0,6 solar atau kandungan energi sekitar 6 kWh (FNR, 2009). Namun, karena kerugian konversi, 1m³ biogas dapat dikonversi menjadi hanya sekitar 1,7 kWh listrik.
Pemanfaatan ini bukan hanya dapat membantu masalah kelistrikan nasional namun secara tidak langsung juga dapat menyelamatkan lingkungan dari kerusakan yang diakibatkan oleh sampah-sampah yang tidak diberdayakan, khususnya sampah organik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s